« Previous post | Next post »
Bertahun-tahun menikmati kemacetan di Jakarta membuat gue ingin mikir apa kendaraan yang paling cocok dengan situasi Jakarta. Coba kita analisa satu-persatu dari kondisi yang ada:
1. Kendaraan itu harus relatif murah, dan gampang perawatannya.
2. Sebaiknya memakai roda berdiameter beser, karena banyak lubang di jalan.
3. Karena sering macet sebaiknya tidak pakai kopling.
4. Jarak Kp. Melayu - Sudirman (15 km) biasanya ditempuh dalam 30 menit, berarti kecepatan rata-rata adalah 30 km/jam. Maximum 40 km/jam.
5. Tidak gerah.
6. Bisa mengangkut penumpang minimal 4 seat, mengantisipasi three in one
7. Irit bahan bakar dan ramah lingkungan, tidak berpolusi.
Berdasarkan faktor-faktor yang disebutkan tadi, kemudian dicari model kendaraan apa yang paling tepat, yaitu: DELMAN. ![]()
Ya, delman tentu saja. Argumennya cukup kuat:
1. Delman tentu saja relatif murah, bisa bersaing dengan Avanza.
2. Rodanya besar, pelek kayu yang kokoh, serta bannya gak bakal bocor (ban mati).
3. Tentu saja tidak pakai kopling, sediakan saja tali kuda.
4. Kecepatan maximum 40 km/jam, bisa dipacu maximum 50 km/jam.
5. Tidak gerah karena desain kokpit terbuka, paling sial kena tampias hujan.
6. Seat cukup luas, 6 seater.
7. Nah ini yang penting, delman tidak menggunakan bahan bakar bertimbal. Karena dia menggunakan bahan makanan, untuk kuda cukup rerumputan.
Kebayang kan indahnya Jakarta kalau pompa-pompa bensin diganti dengan ladang-ladang rumput nan hijau dengan kuda-kuda yang merumput?


Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk…:)
to enda: Anda benar… bayangkan kita hidup berdampingan dengan kuda :)
to okke Maaf mba okke saya suka ketinggalan kosa kata, “cunihin” itu naon?
Ga demen ama kuda.. suka takut naiknya. Lagipula ga baik untuk bagian tubuh yg “nganuh” itu loh hehe
btw mas erly, cunihin teh ganjen.
Ganjen teh centil